Dunia Adin

Penulis: Sundea
Ilustrator: Triyadi Guntur W
Penerbit: Read! Publishing House 2007

KALAU kamu pernah baca Salamatahari yang ditulis oleh Sundea, pasti kamu enggak bakal menyesal kalau baca buku keduanya yang berjudul Dunia Adin. Eits, meski dikategorikan sebagai buku dongeng dan anak-anak, Dunia Adin ini bakal ngasih pengalaman menyenangkan dengan anak-anak usia enam tahun, yang ternyata pikirannya bisa membuat orang dewasa kagum. Diceritakan dengan sudut pandang seorang eh, atau satu anak angin yang mengamati perjalanan kehidupan Adinda Alissa.

Adin, digambarkan oleh penulis yang punya nama lengkap Ardea Rhema Sikhar ini, sebagai anak kecil lucu dan menggemaskan dengan pipi tembem. Anak satu-satunya dari keluarga Setiadikara. Mamim dan Papip (panggilan Adin untuk kedua ortunya) Adin tinggal di salah satu kompleks perumahan yang menyediakan berbagai fasilitas. Adin yang bersekolah tak jauh dari rumahnya, punya sahabat akrab yang bernama Lambok Hasudungan, a.k.a Coki. Coki ini tinggal di rumah depan Adin. Selain bersahabat dengan Coki, Adin memang telah dianggap anak oleh keluarga Panggabean yang punya enam orang anak laki-laki.

Petualangan Adin pun bermacam-macam, seru, sekaligus bikin belia cengar-cengir saat membaca buku ini. Ada kisah Adin dengan anak balon yang akan menyeberang jalan, tentang kubangan air yang Adin anggap sedih, kala digilas oleh ban mobil, dan lainnya. Bersama Coki, Adin juga mengalami banyak hal, termasuk cerita penyelamatan ikan mas bernama Maub-maub yang dipiara Coki. Ada juga cerita tentang Adin bersama kakak-kakak Coki. Harus menghadapi kelakuan jahil Kak Barry, atau mendapat teman baru dari Kak Ruli dan Kak Dodo.

Adin yang hobi menggambar di dinding kamarnya juga selalu menggambarkan semua kisahnya di dinding. Ada gambar pacar Kak Ruli yang disebut tukang sihir oleh Kak Barry, ada gambar cicak yang Adin temui di kantor Papipnya, dan masih banyak gambar yang dicoretkan crayon Adin. Paling seru sih, saat kelas Adin kedatangan murid baru bernama Bambang Suharjiwan. Adin yang kritis pun dengan polosnya bilang gini, "Nama kamu kok kayak gitu sih? Itu kan nama bapak-bapak..." Whihihih, kamu langsung cekikikan sendiri pas baca bagian ini. Tapi enggak semua bikin senang, ada bagian sedihnya juga. Saat Adin dihadapkan pada pilihan untuk meninggalkan sahabat-sahabatnya untuk ikut Papip dan Mamimnya pindah keluar kota. Hiks, kita juga ikutan nangis... Udah ah, bocorannya. Mending kamu baca sendiri aja ya!

0 komentar:

Posting Komentar